Sabtu, 31 Juli 2010

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN BAHAN MAKANAN

Jenis-jenis teknik pengolahan dan pengawetan makanan

Pendinginan

Pendiginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 sampai +10 0 C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali. Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap rasa, tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya. Beberapa bahan pangan menjadi rusak pada suhu penyimpangan yang terlalu rendah.

Pengeringan

pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan energi panas. Biasanya, kandungan air bahan tersebut di kurangi sampai batas sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di dalamya. Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang sehingga memudahkan transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih murah. Kecuali itu, banyak bahan-bahan yang hanya dapat di pakai apabila telah di keringkan, misalnya tembakau, kopi, the, dan biji-bijian. Di samping keuntungan-keuntunganya, pengeringan juga mempunyai beberapa kerugian yaitu karena sifat asal bahan yang di keringkan dapat berubah, misalnya bentuknya, misalnya bentuknya, sifat-sifat fisik dan kimianya, penurunan mutu dan sebagainya. Kerugian yang lainya juga disebabkan beberapa bahan kering perlu pekerjaan tambahan sebelum di pakai, misalnya harus di basahkan kembali (rehidratasi) sebelum di gunakan. Agar pengeringan dapat berlangsung, harus di berikan energi panas pada bahan yang di keringkan, dan di perlukan aliran udara untuk mengalirkan uap air yang terbentuk keluar dari daerah pengeringan. Penyedotan uap air ini daoat juga di lakukan secara vakum. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika pemanasan terjadi pada setiap tempat dari bahan tersebut, dan uap air yang di ambil berasal dari semua permukaan bahan tersebut. Factor-faktor yang mempengaruhi pengeringan terutama adalah luas permukaan benda, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap di udara, dan waktu pengeringan.

Pengemasan

Pengemasan merupakan bagian dari suatu pengolahan makanan yang berfungsi untuk pengawetan makanan, mencegah kerusakan mekanis, perubahan kadar air. Teknologi pengemasan perkembangan sangat pesat khususnya pengemas plstik yang dengan drastic mendesak peranan kayu, karton, gelas dan metal sebagai bahan pembungkus primer.

Berbagai jenis bahan pengepak seperti tetaprak, tetabrik, tetraking merupakan jenis teknologi baru bagi berbagai jus serta produk cair yang dapat dikemas dalam keadaan qaseptiis steril. Sterilisasi bahan kemasan biasanya dilakukan dengan pemberian cairan atau uap hydrogen peroksida dan sinar UV atau radiasi gama.

Jenis generasi baru bahan makanan pengemas ialah lembaran plstik berpori yang disebut Sspore 2226, sejenis platik yang memilki lubang – lubang . Plastik ini sangat penting penngunaanya bila dibandingkan dengan plastic yang lama yang harus dibuat lubang dahulu. Jenis plastic tersebut dapat menggeser pengguanaan daun pisang dan kulit ketupat dalam proses pembuatan ketupat dan sejenisnya.

Pengalengan

Namun, karena dalam pengalengan makanan digunakan sterilisasi komersial (bukan sterilisasi mutlak), mungkin saja masih terdapat spora atau mikroba lain (terutama yang bersifat tahan terhadap panas) yang dapat merusak isi apabila kondisinya memungkinkan. Itulah sebabnya makanan dalam kaleng harus disimpan pada kondisi yang sesuai, segera setelah proses pengalengan selesai.

Pengalengan didefinisikan sebagai suatu cara pengawetan bahan pangan yang dipak secara hermetis (kedap terhadap udara, air, mikroba, dan benda asing lainnya) dalam suatu wadah, yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua mikroba patogen (penyebab penyakit) dan pembusuk. Pengalengan secara hermetis memungkinkan makanan dapat terhindar dan kebusukan, perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi, atau perubahan cita rasa.

Penggunaan bahan kimia

Bahan pengawet dari bahan kimia berfungsi membantu mempertahankan bahan makanan dari serangan makroba pembusuk dan memberikan tambahan rasa sedap, manis, dan pewarna. Contoh beberapa jenis zat kimia : cuka, asam asetat, fungisida, antioksidan, in-package desiccant, ethylene absorbent, wax emulsion dan growth regulatory untuk melindungi buah dan sayuran dari ancaman kerusakan pasca panen untuk memperpanjangkesegaran masam pemasaran. Nitogen cair sering digunakan untuk pembekuan secara tepat buah dan sayur sehinnga dipertahankan kesegaran dan rasanya yang nyaman.

Suatu jenis regenerasi baru growth substance sintesis yang disebut morfaktin telah ditemuakan dan diaplikasikan untuk mencengah kehilangan berat secara fisiologis pada pasca panen, kerusakan karena kapang, pemecahan klorofil serta hilangnya kerennyahan buah. Scott dkk (1982) melaporkan bahwa terjadinya browning, kehilangan berat dan pembusukan buah leci dapat dikurangi bila buah – buahan tersebut direndam dalam larutan binomial hangat (0,05%, 520C ) selama 2 menit dan segera di ikuti dengan pemanasan PVC (polivinil klorida ) dengan ketebalan 0,001 mm.

Pemanasan

penggunaan panas dan waktu dalam proses pemanasan bahan pangan sangat berpengaruh pada bahan pangan. Beberapa jenis bahan pangan seperti halnya susu dan kapri serta daging, sangat peka terhadap susu tinggi karena dapat merusak warna maupun rasanya. Sebaliknya, komoditi lain misalnya jagung dan kedelai dapat menerima panas yang hebat karena tanpa banyak mengalami perubahan. Pada umumnya semakin tinggi jumlah panas yang di berikan semakin banyak mikroba yang mati. Pada proses pengalengan, pemanasan di tujukan untuk membunuh seluruh mikroba yang mungkin dapat menyebabkan pembusukan makanan dalam kaleng tersebut, selama penanganan dan penyimpanan. Pada proses pasteurisasi, pemanasan di tujukan untuk memusnahkan sebagian besar mikroba pembusuk, sedangkan sebagian besar mikroba yang tertinggal dan masih hidup terus di hambat pertumbuhanya dengan penyimpanan pada suhu rendah atau dengan cara lain misalnya dengan bahan pengawet. Proses pengawetan dapat di kelompokan menjadi 3 yaitu: pasteurisasi, pemanasan pada 1000 C dan pemanasan di atas 1000 C.

g.Teknik fermentasi

.fermentasi bukan hanya berfungsi sebagai pengawet sumber makanan, tetapi juga berkhasiat bagi kesehatan. Salah satumya fermentasi dengan menggunakan bakteri laktat pada bahan pangan akan menyebabkan nilai pH pangan turun di bawah 5.0 sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri fekal yaitu sejenis bakteri yang jika dikonsumsi akan menyebabkanakan muntah-muntah, diare, atau muntaber.

Bakteri laktat (lactobacillus) merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan. tercatat delapan jenis bakteri laktat, antara lain Lacobacillus acidophilus, L fermentum, L brevis,dll

Asam laktat yang dihasilkan bakteri dengan nilai pH (keasaman) 3,4-4 cukup untuk menghambat sejumlah bakteri perusak dan pembusuk bahan makanan dan minuman. Namun, selama proses fermentasi sejumlah vitamin juga di hasilnhkan khususnya B-12. Bakteri laktat juga menghasilkan lactobacillin (laktobasilin), yaitu sejenis antibiotika serta senyawa lain yang berkemampuan menontaktifkan reaksi kimia yang dihasilkan oleh bakteri fekal di dalam tubuh manusia dan bahkan mematikannya , Senyawa lain dari bakteri laktat adalah NI (not yet identified atau belum diketahui). NI bekerja menghambat enzim 3-hidroksi 3-metil glutaril reduktase yang akan mengubah NADH menjadi asam nevalonat dan NAD. Dengan demikian, rangkaian senyawa lain yang akan membentuk kolesterol dan kanker akan terhambat.

Di beberapa kawasan Indonesia, tanpa disadari makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian di dalam menu makanan sehari-hari. Yang paling terkenal tentu saja adalah asinan sayuran dan buah-buahan. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan. Bekasam atau bekacem dari Sumatera bagian Selatan, yaitu ikan awetan dengan cara fermentasi bakteri laktat, bukan saja merupakan makanan tradisional yang digemari, tetapi juga menjadi contoh pengawetan secara biologis yang luas penggunaannya. (F:\Suara Merdeka Edisi Cetak.mht)

h.Teknik Iradiasi

Iradiasi adalah proses aplikasi radiasi energi pada suatu sasaran, seperti pangan. Menurut Maha (1985), iradiasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk pemakaian energi radiasi secara sengaja dan terarah. Sedangkan menurut Winarno et al. (1980), iradiasi adalah teknik penggunaan energi untuk penyinaran bahan dengan menggunakan sumber iradiasi buatan.

Jenis iradiasi pangan yang dapat digunakan untuk pengawetan bahan pangan adalah radiasi elektromagnetik yaitu radiasi yang menghasilkan foton berenergi tinggi sehingga sanggup menyebabkan terjadinya ionisasi dan eksitasi pada materi yang dilaluinya. Jenis iradiasi ini dinamakan radiasi pengion, contoh radiasi pengion adalah radiasi partikel ,dan gelombang elektromagnetik  Contoh radiasi pengion yang disebut terakhir ini paling banyak digunakan (Sofyan, 1984; Winarno et al., 1980).

Dua jenis radiasi pengion yang umum digunakan untuk pengawetan makanan adalah : sinar gamma yang dipancarkan oleh radio nuklida 60Co (kobalt-60) dan 137Cs (caesium-37) dan berkas elektron yang terdiri dari partikel-pertikel bermuatan listrik. Kedua jenis radiasi pengion ini memiliki pengaruh yang sama terhadap makanan.

Menurut Hermana (1991), dosis radiasi adalah jumlah energi radiasi yang diserap ke dalam bahan pangan dan merupakan faktor kritis pada iradiasi pangan. Seringkali untuk tiap jenis pangan diperlukan dosis khusus untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kalau jumlah radiasi yang digunakan kurang dari dosis yang diperlukan, efek yang diinginkan tidak akan tercapai. Sebaliknya jika dosis berlebihan, pangan mungkin akan rusak sehingga tidak dapat diterima konsumen

Keamanan pangan iradiasi merupakan faktor terpenting yang harus diselidiki sebelum menganjurkan penggunaan proses iradiasi secara luas. Hal yang membahayakan bagi konsumen bila molekul tertentu terdapat dalam jumlah banyak pada bahan pangan, berubah menjadi senyawa yang toksik, mutagenik, ataupun karsinogenik sebagai akibat dari proses iradiasi.

>

Proses pengawetan ikan dengan garam

Proses Penurunan Mutu

Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang sangat cepat mengalami pembusukan ( perishable food ). Hal ini terjadi karena senyawa penyusun tubuh ikan mudah sekali mengalami penguraian oleh mikroba yang secara alami terdapat pada tubuh ikan ( Brown, 1986 ). Menurut Junizal (1976 ), tiga proses utama segera terjadi setelah ikan mati yaitu pertama proses autolisis dan ensimatis selama ikan mengalami prerigor dan rigor mortis, kemudian dilanjutkan oleh serangan bakteri pembusuk dan terakhir terjadinya oksidasi reduksi asam lemak yang menyebabkan bau tengik (rancid ) pada tubuh ikan.

Menurut Novikov ( 1983 ) selama berlangsungnya proses autolisis tidak menimbulkan penurunan kesegaran dan pembusukan tetapi hanya menghasilkan senyawa-senyawa yang menyokong untuk pertumbuhan mikroba dan proses ini menandakan bahwa ikan masih segar.

Setelah berakhirnya proses rigor mortis dan autolisis maka mulailah serangan bakteri yang berperan dalam pembusukan ikan (Ilyas, 1983 ).

Menurut Jay ( 1986 ), daging ikan segar yang baru ditangkap secara bakteriologis adalah seteril. Penurunan kesegaran ini pertama-tama disebabkan oleh kerja bakteri yang menguraikan protein, terekstrak membentuk senyawa-senyawa seperti trimetilamin ester, asam laktat, trimetil sulfide dan alkohol. Bakteri yang terdapat pada daging ikan ini berasal dari tiga tempat yaitu lendir pada kulit 102 - 107 per cm2 kulit, pada insang sebanyak 103 - 108 per gram insang dan isi perut 103 - 106 per ml isi perut yang masuk melalui pori-pori kulit dan darah. Pada proses pembusukan bakteri yang berperan adalah spesies Pseudomonas. Selanjutnya Hobbs dan Hodgkiss ( 1982 ), bakteri yang dominan terdapat dalam tubuh ikan yang baru di tangkap terdiri dari golongan gram negatif yaitu : spesies Pseudomonas, Alteromonas, Vibrio, Flavobakterium dan Cytophage serta dari golongan gram positif yaitu : Moraxella dan genus Micrococcus.

Pengawetan ikan dengan Garam ( NaCl )

Penggunaan garam sebagai bahan pengawet khususnya untuk produksi perikanan tampaknya masih diandalkan oleh Negara-negara berkembang dan peranannya masih tetap penting dalam pengolahan tradisional. Keampuhan daya pengawet dari garam yang murah, aman bagi kesehatan dan tersedianya dimana-mana barangkali merupakan faktor-faktor penting yang menentukan pilihan terhadap pemakaian garam ( Poernomo et al. , 1988 ).

Menurut Poernomo et al. ( 1988) menyatakan bahwa garam bersifat hygroskopis dapat menarik air dari daging ikan sehingga kadar airnya berkurang.

Selanjutnya Winarno dan Betty ( 1992 ) menyatakan mekanisme pengawetan dengan pemberian garan adalah garam mempunyai tekanan osmotik tinggi, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya plasmolisis dari sel mikroba dan garam bersifat hygroskopis, dimana dapat menyerap air dari bahan dan lingkungan, sehingga aktivitas air bahan makanan akan rendah dan pertumbuhan mikroba dapat dihambat. Pertama-tama garam akan berperan sebagai penghambat selektif pada mikroorganisme pencemar tertentu, mikroorganisme proteolitik adalah yang paling mudah terpengaruh walaupun dengan kadar garam 6%, selain itu garam juga mempengaruhi aktivitas air dari bahan.

Saripah dan Setiasih ( 1980 ) menyatakan meskipun garam tidak dapat membunuh semua jenis mikroba, tetapi pada umumnya kebanyakan mikroba yang menyebabkan pembusukan dapat dihambat pertumbuhannya. Pada konsentrasi garam antara 10 sampai 15 persen sudah cukup untuk membunuh sebagian besar jenis bakteri kecuali jenis-jenis bakteri halofilik yaitu jenis bakteri yang tahan terhadap konsentrasi yang tinggi, bahkan ada yang tahan sampai konsentrasi garam 26,6 persen.

Di samping garam sebagai bahan pengawet, garam pada konsentrasi rendah dapat memberikan sumbangan citarasa. Pada konsentrasi garam 2 - 4 persen di dalam produk hanya sedikit pengaruhnya terhadap pengawetan tetapi berfungsi sebagai pembei citarasa dan memperbaiki kenampakan ( Cutting, 1965 ).

Menurut Suparno et al ( 1980 ), garam merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi daya awet pindang. Penggunaan garam sebagai bahan pengawet, khususnya untuk produk perikanan, peranannya masih tetap menduduki yang terpenting dalam pengolahan. Hal ini disebabkan karena garam merupakan zat pengawet alami yang harganya relatif murah, aman bagi kesehatan dan gampang diperoleh.

Garam sebagai bahan pengawet, kemurnian garam sangat mempengaruhi mutu dari ikan yang dihasilkan. Adanya garam magnesium ( Mg ) dan Calsium ( Ca) 1% saja dapat mempengaruhi terhadap warna ikan pindang yang dihasilkan, selain itu rasa dari ikan menjadi pahit dan tekstur ikan menjadi keras dan rapuh ( Moeljanto, 1992 ). Selanjutnya wanuri ( 1978 ), menyatakan garam sebagai bahan pengawet akan banyak pengaruhnya terhadap mutu pindang ikan tongkol yang dapat ditandai oleh bau, rasa dan warna dari pindang yang dihasilkan. Garam yang kurang murni lambat sekali meresap ke dalam ikan. Demikian juga ikan pindang akan mempunyai bau yang kurang memuaskan, rasa yang pahit, warna yang kurang menarik dan tidak tahan lama. Sedangkan pemakaian garam mudah meresap ke dalam daging ikan tongkol akan mempunyai bau yang sedap rasa yang gurih dan akan tahan lama.

Menurut Anon ( 1978 ), penggunaan garam sebesar 15% dari berat ikan sudah cukup efektif untuk emgawetkan ikan pindang, sedangkan menurut Nitibaskara (1980) bahwa dalam pemindangan kadar garam yang optimal adalah 15% dan pindang yang paling disukai adalah dengan kadar garam 10%
>

Sanitasi pekerja dalam pengolahan makanan

Sanitasi pekerja sangat diperlukan dalam suatu industri. Pekerja atau karyawan yang mengolah bahan pangan harus sehat jasmani dan rohani serta mengerti tentang kesehatan. Pekerja harus mengikuti prosedur sanitasi yang memadai untuk mencegah kontaminasi pada makanan yang ditanganinya. Prosedur yang penting bagi pekerja pengolah makanan adalah pencucian tangan, kebersihan dan kesehatan diri (Hiasinta, 2001). Sanitasi di Perusahaan Intenasional meliputi :

1. Menyediakan kamar mandi yang dilengkapi dengan sarana air bersih.

2. Menyediakan sarana cuci tangan

3. Menyediakan celemek.

Tangan yang kotor atau terkontaminasi dapat memindahkan bakteri dan virus patogen dari tubuh, fases, atau sumber lain ke makanan. Oleh karena itu, pencucian tangan merupakan hal pokok yang harus dilakukan pekerja yang terlibat dalam penanganan makanan. Pekerja sebaiknya mencuci tangan sebelum memulai pekerjaan dan setelah melakukan kegiatan pribadi (misalnya merokok , makan, minum, bersin, batuk , dan setelah menggunakan toilet). Pencucian tangan dilakukan dengan mengunakan sabun dan diikuti dengan pembilasan menggunakan tissue (Hiasinta, 2001).

Rambut pekerja harus selalu dicuci secara periodic. Pekerja yang berambut panjang harus mengikat rambutnya dan disarankan menggunakan topi atau jala rambut (hairnet). Walaupun tidak menggunakan seragam khusus , hendaknya pekerja memakai pakaian yang bersih, tidak bermotif, dan berwarna terang. Hal ini dilakukan agar kotoran pada pakaian mudah terlihat (Hiasinta, 2001).

Celemek yang digunakan oleh para pekerja juga harus bersih dan tidak boleh digunakan sebagai lap tangan. Setelah tangan bercelemek , sebaiknya dicuci. Penggunaan sarung tangan plastic pada waktu pengemasan dapat mencegah kerusakan makanan akibat kontaminasi dari tangan pekerja. Karyawan yang menangani makanan dalam suatu industri merupakan sumber kontaminasi yang penting karena kandungan mikroba patogen pada manusia dapat menimbulkan penyakit yang nantinya dapat dituangkan melalui makanan. Beberapa hal penting yang harus selalu dijaga oleh para karyawan yaitu kebersihan dan kesehatan pribadi. Untuk itu jika ada salah seorang karyawan yang sakit , maka diharuskan untuk cuti hingga sembuh dari sakit. Kebiasaan pribadi (Personal Habit) para pekerja dalam mengolah bahan pangan dapat merupakan sumber yang penting dari pencemaran.

Beberapa peristiwa keracunan bahan pangan yang tercemar oleh Staphylococcus aureus diakibatkan oleh higiene yang buruk dari pengelola bahan makanan tersebut. Apabila memungkinkan pekerja harus memakai sarung tangan, apabila tangan pekerja terluka harus ditutup dengan plaster kain tahan air agar mikroorganisme pada luka tidak mengkontaminasi makanan. Pekerja tidak boleh batuk, bersin, meludah, dan merokok dalam ruangan pengolahan.

>

Rabu, 21 Juli 2010

Cara Penanganan Ikan segar

Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mudah membusuk. Hal ini dapat dilihat pada ikan-ikan yang baru ditangkap dalam beberapa jam saja kalau tidak diberi perlakuan atau penanganan yang tepat maka ikan tersebut mutunya menurun.

Penanganan ikan basah harus dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya, dengan perlakuan suhu rendah dan memeperhatikan faktor kebersihan dan kesehatan.

Penanganan Ikan Basah di Laut

  • Ikan hasil tangkapan segera disemprot dengan air laut bersih sesaat tiba di geladak, kemudian dipisahkan dan dikelompokkan menurut jenis serta ukurannya.
  • Perlakuan yang dikenakan harus dapat mencegah timbulnya kerusakan fisik (ikan tidak boleh diinjak atau ditumpuk terlalu tinggi).
  • Ikan harus dilindungi terhadap terik matahari.
  • Pendinginan dilakukan dengan menyelubungi ikan dengan es hancuran dan suhu ikan dipertahankan tetap pada sekitar 0°C selama penyimpanan.
  • Tinggi timbunan ikan dalam wadah penyimpan maksimal 50 cm ( tergantung jenis ikan) agar ikan tidak rusak.
  • Jika pendinginan dilakukan dengan menggunakan air laut yang didinginkan, harus dilakukan sirkulasi air, baik secara mekanik maupu manual, agar terjadi perataan suhu dan terhindar dari penimbunan kotoran.
  • Penyimpanan tidak boleh lebih dari 4 hari.

Cara Pembongkaran Hasil Tangkapan

  • Sewaktu membongkar muatan, hendaknya dipisahkan hasil tangkapan yang berbeda hari atau waktu penangkapannya.
  • Harus dihindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan kerusakan fisik, seperti sekop, garpu, pisau dan lain-lain.
  • Pembongkaran muatan harus dilakukan secara cepat dengan mengindarkan terjadinya kenaikan suhu ikan.

Penanganan Ikan Basah di Darat

  • Pada saat dibongkar dari perahu, kapal atau kendaraan, sebelum dilelang atau dijual, sebaiknya ikan dalam wadah masih diselimuti es, agar tidak meningkat suhunya.
  • Ikan tidak boleh dicuci dengan air kotor atau air tercemar lainnya.
  • Di tempat pendaratan, pengumpulan, pelelangan dan pengepakan, selama menunggu perlakuan berikutnya, ikan tidak boleh diletakkan di lantai dan sebaiknya ikan ditaburi es.
  • Setelah selesai penjualan atau pelelangan, ikan harus segera dikelompokkan menurut jenis, ukuran dan mutu kesegarannya.
  • Jika ikan disiangi, maka sepanjang kegiatan penyiangan dan pencucian harus digunakan es hancuran yang cukup agar ikan tidak membusuk karena kenaikan suhu.
  • Jika ikan disimpan dalam waktu yang lama karena menunggu pengiriman, sebaiknya es diganti dengan es yang baru kemudian ditata ulang kembali.

Penanganan Selama Pengangkutan dan Distribusi

  • Selama pengangkutan dan distribusi, suhu ikan harus senantiasa rendah, alas wadah harus dilapisi es halus kemudian lapisan ikan yang ditaburi es disusun diatasnya.
  • Diatas dan dibawah tumpukan peti ikan harus diberi lapisan es yang lebih tebal.
  • Usahakan kondisi termperatus didalam fom 0°C

Ciri-ciri Ikan Segar

  • Rupa dan warna ikan secara keseluruhan masih cerah, mengkilap spesifik sesuai jenis ikan.
  • Lendir yang tipis, bening dan encer menyelubungi tubuh ikan baunya normal dan khas jenis ikan.
  • Sisik melekat kuat-mengkilat dengan warna atau tanda khusus sesuai jenis ikan.
  • Mata cemerlang, cembung, bening, pupil bitam dan tidak banyak berdarah.
  • Daging kenyal, jika dipijat, bekas pijatan tidak nampak.
  • Insang berwarna merah cerah khas menurut jenis ikan, tertutup lendir yang tipis, bening dan berbau segar.
  • Bagian perut masih kuat, tidak pecah dan lubang dubur tertutup.

Ciri-ciri ikan yang jelek :

  1. Warna insang pucat dan berbau busuk
  2. Lendir alami yang menutupi permukaan ikan hilang atau mengering atau menjadi pekat atau lengket
  3. Warna kulit menjadi pudar, kulit ikan akan mengering dan retak
  4. Sisik-sisiknya banyak yang lepas
  5. Dagingnya lunak dan kehilangan elastisitasnya
>

Beberapa Jenis Makanan Pencegah Penyakit Diabetes

Jika anda pernah bertanya-tanya makanan apa yang memiliki kandungan penyembuhan paling baik, berikut penjelasan yang mungkin bermanfaat untuk anda. Obat-obatan, pil, dan bahan-bahan kimia tidak hanya bahan yang dapat menyehatkan tubuh, tetapi sebagian besar obat-obatan komersial tidak memiliki pencegahab penyakit jangka panjang.

Sebaliknya, semua makanan memiliki kandungan pencegahan dan pengobatan alamiah. Hampir semua makanan berpengaruh pada tubuh manusia, tetapi beberapa merupakan makanan pengobatan yang lebih baik dibanding yang lain. Berikut 10 makanan yang memiliki potensi pengobatan, kepraktisan konsumsi, dan terbukti efektif.

Salmon
Ikan salmon memiliki kandungan omega tiga tertinggi, yang dapat mencegah masalah jantung. Penelitian menunjukkan bahwa memakan ikan salmon sekali dalam seminggu akan menurunkan resiko serangan jantung dan juga menurunkan tekanan darah, juga mengurangi arthritis, mencegah asma dan mencegah kanker lambung dan payudara.

Wortel
Wortel adalah makanan pengobatan manjur karena mengandung beta karotin. Beta karotin dihubungkan dengan anti kanker, meningkatkan sistem kekebalan dan melindungi arteri. Satu wortel sehari dapat menurunkan resiko kanker paru-paru dan sangat dipercaya baik untuk mata yaitu mencegah penyakit mata seperti katarak.

Bawang
Penelitian menunjukkan bahwa bawang mencegah banyak kanker pada binatang. Pada manusia, bawang dikenal dapat mencegah kanker perut karena megandung antioksidan. Setengah bawang setiap hari dapat menurunkan kolesterol dan menurunkan gumpalan darah.

Jeruk
Anda pasti tahu bahwa jeruk banyak mengandung vitamin C yang dapat mencegah flu dan pilek, tetapi apakah anda tahu bahwa jeruk dapat mencegah kanker paru-paru, perut, pancreas, lambung dan payudara? Yang terpenting, karena jeruk mengandung potassium dan vitamin B yang dapat mencehag stroke dan penyakit jantung, juga dipercaya menyuburkan pada lelaki. Satu atau dua jeruk perhari bermanfaat untuk pengobatan. Karena jeruk sangat biasa dan mudah dimakan, sehingga kandungan pengobatan sangat lebih efektif.

Brokoli
Banyak yang tidak tahu bahwa penyajian brokoli mengandung 97% vitamin C yang merupakan makan pengobatan untuk masalah jantung. Antioksidan memelihara aliran darah normal dan mengurangi tekanan darah. Fiber dapat menurunkan kolesterol dan mengatur tingkat gula darah, baik untuk penderita diabetes. Brokoli juga dipercaya mencegah kanker lambung, paru-paru dan payu dara karena mempengruhi tingkat hormon.

Apel
Satu apel per hari dapat menjauhkan anda dari dokter, buah-buahan yang sangat popular, praktis dan mudah dikonsumsi. Apel mengandung vitamin C dan A yang efektif untuk menurunkan tingkat kolesterol dan resiko kanker (cy)

>